Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Penggal Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penggal Puisi. Tampilkan semua postingan

Hati Malaikat

Written By rumah karya on Selasa, 21 Juni 2011 | 13.11



Aroma wangi memperkosa udara pagi
Aroma yang keluar dari sebelah bilik mandi
Ciprat air suci yang ternodai
oleh kotor kucing berdebu bergelut dengan kerasnya hidup
yang dipungut dari dalam dekapan kabut shubuh.
Kucing malang yang terbuang di tengah ramainya lalu lalang orang.

Seorang pemuda dengan hati salju mengeja langkah
Memungut dengan hati lara
Memandang lekat-lekat dengan senyum rekah.
Berujar, "Malang sekali kau sayang!"
Mendekap penuh iba.
Meresapi kepedihan yang diderita.
Resapan yang mencabik alam nyata.

Byuuuuurrrr!
Air jatuh pada gundukan tanah hitam
Tanah keras yang dipungut dari pinggir sawah belakang kuliah
Mencoba meluluhkan
Mencoba memberi nafas pada tumbuhan
yang meranggas berebutan makan.

Pagi masihlah buta
Ketika suara azan baru saja mengelinding di udara
Dengan sigap tangan-tangan itu memungut gayung membentuk irama
menyatu dengan degup pagi yang masih perawan

Dua manusia dengan hati permata.
Mencoba berkasih sayang dengan lain sama.
Kasih yang mulai pudar di negeriku Indonesia.
Demi kepentingan,
semua dimakan tanpa rasa jijik dan siksa.
Daging mentah, tanah, bahkan kotoran,
luluh lantak ditelan.
Ufhh!

Aku tersenyum bangga pada mereka berdua
Manusia dengan hati malaikat dengan kucuran pahala
siap mengalir pada setiap keikhlasannya.


Puisi untuk sahabatku Edra Wardi dan Kasmon Prasatya.
10.02 WZ. 17 Juni 2011

Inklusif

Written By rumah karya on Kamis, 16 Juni 2011 | 15.07


Subur.
Menumbuhkan tunas-tunas harapan.
Ranting-ranting yang terbuang, hidup,
walau beronggok tak beraturan,
walau hanya dibelai gerimis musiman.
Tenang. Sejuk.
Masukan dan kritikan menjadi pupuk


yang menyuburkan.
Inklusif.
Terbuka.
Hati yang hidup rela menerima


Senin, 30 Mei 2011
Udo Iwan

Kabut Malam

Kabut malam mengurung jejak langkah.
Menyekat titik tuju.
Dan memendam ragam luka.

Keluar dan merdeka.
Bebaskan jiwa dari dekapan.
Jangan terkulai dengan keadaan.



Karena menggantung banyak beban.
Geraklah!
Terburai andai kau abai.
Tenggelam andai kau lalai.


Rabu, 1 Mei 2011
Udo Iwan

Kering

Keruh.
Tak ada cahaya mutiara yang berpendar.
Putih ikan mengapung, tersekat.
Tertutup permukaan yang berkarat.
Nasehat dan wejangan tumpah tak tahu arah.
Masukan dan kritikan berbuah amarah.


Hati yang kering, demikian adanya.

Ahad, 29 Mei 2011
Udo Iwan

Saudara Plestina

Senandung hati-hati yang luka
dijamah tangan-tangan berlumur dosa.
Menjerit.
Berteriak.
Tapi, semua menulikan telinga.
Membutakan mata.
Membungkamkan suara.



Ah, betapa malang nasibmu, kawan.
Kau dilupakan.
Dan dipinggirkan.
Kau berjuang sendiri.
Melontarkan kerikil-kerikil mati.

Di sana, saudara-saudaramu menonton.
Tersenyum manis melihat kau terjerembab makan tanah.
Seolah ini adalah tontonan yang menakjubkan.
Dengan kau sebagai pejuang malang.

Akupun sama kecil denganmu.
Dari jarak jauh.
Do'a dan dukunganlah yang dapat kuberikan.
Aku tak punya kekuatan.
Aku bukan presiden. Raja.
atau perdana menteri.
Aku juga bukan Jenderal yang punya segudang pasukan.
Aku rakyat jelata
hanya bisa menitikkan air mata dan berdoa.
Semoga kau diberi kekuatan dan kesabaran
saudara palestinaku.


Senin, 16 Mei 2011
Udo Iwan

Stagnan

Kaki membeku,
tak lagi terasa batu-batu yang menimpa.
Tak kuat berdiri.
Layu bak tanaman kurang air,
tak sanggup menengadah.
Berat.
Helaan-helaan nafas membeku dalam dada.
Sesak.


Tinggal kemuning daun,
hijaunya habis dilumat ulat.
Perlahan gugur ditiup angin.

5 agustus 2010

Tanda Tanya

Seperti terpenjara.
Pengap dan tersiksa.
Layaknya beban berat menumpuk di kuduk.
Kini lega menghempaskan udara.
Tak lagi sesak bak asma.
Namun, di depan jalanan gulita.
Masih berupa tanda tanya (?).


Tak tahu nikmat apa.
Dan bahaya apa yang kan menimpa.
Waspada!

21 Januaro 2011

Tercabik

Lembaran yang tercabik
oleh tetes-tetes gerimis.
Lembaran berharga penentu arah.
Begitu gampangkah terkikis?
Hanya dengan gerimis.
Pecundang.
Badai.
Puting beliung.


Tornado.
Masih bisa dimaklumi.
Tapi, ini....??????
Oh, tidak.

Selasa, 17 Mei 2011
Udo Iwan

Sampah

Bising.
Terlalu banyak lalat berteriak.
Hinggap dipojok-pojok jiwa.
Menyedot setiap harapan dan cita.
Lalu jiwa mati.
Dan takkan ada madu, gula, atau sekedar penghibur lara.
Seketika menjelma sisa-sisa tak berharga.
Dikesampingkan.


Dibuang karena tak berharga,
karena menganggu tatapan mata.


Selasa, 24 Mei 2011

Rawa Penyakit

Rawa-rawa tergenang.
Air kotor kubang.
Kubang segala penyakit yang menjangkit.
Jentik-jentik nyamuk.
Lintah-lintah penghisap.
Ular-ular berbisa.
Buaya-buaya pemangsa.
Hidup.
Keringkan!


Lalu bangun tembok keimanan.
Karena mencegah lebih baik dari mengobati.
Sebelum hati terjajah,
mengeringkan rawa adalah keharusan.

Ahad, 29 Mei 2011
Udo Iwan
Saatnya pegang kendali.
Karena kita 'tak lagi bayi yang disuapi.
Kita adalah generasi dg sejuta kreasi dan inovasi.
Mendobrak jalan2 buntu.
Menimbun lobang2 dahulu.
Ya, itulah kita, pemuda pembaharu.Pembaharu


Karena kita bukanlah sampah pengotor sudut2 jalanan.


20 Januari 2011

Merah.

Hamparan hijau diinjak kaki bercak darah.
Meranggas lapuk ranting didera nestapa.
Berkas sinar mengapung,
tersumbat belukar belantara.
Tinggal pekat bergerilia,
mencipta nista,
mengayam noda.


Menjelmalah perisai baja.
Tak goyah hanya dengan angin kata.

Selasa, 31 Mei 2011
Udo Iwan

Bintik Hitam

Got hitam diaduk.
Wajan hitam legam.
Titik hitam dipekat malam.
Awan kelam.
Hitam.
Semua hitam.
Tapi kalah hitam dengan bintik-bintik yang menjamur dalam hati.
Kering berdebu.


Keras membatu.
Tak luluh dengan bujuk rayu.
Tak cair dengan panggang matahari.
Mati.

Sabtu, 28 Mei 2011
Udo Iwan

Berpisah

Kembali ia pergi,
meninggi dan terus meninggi.
Kemaren kita rasanya baru melepas rindu,
kini menjelma pilu.
Ah, apakah aku termasuk org yg sedih dg berlulunya kau.
Atau org yg bertepuk girang.
Semoga aku termasuk para perindumu,
seperti para sahabat yg tak sabar menanti kau kembali.


Menangis ketika kau tak ada disisi.
Berharap semua bulan adalah kau.
Ya Allah, pertemukanlah kami kembali. Amiin!

9 september 2010

Dunia Ujud

Inilah duniaku,
dunia ujud.
Duniaku bukan bayang dipekat malam.
Di duniaku ini aku menggapai,
memanjat, dan menggali.
Bukan saatnya bengong menatap kosong.


Karena aku hidup, aku mesti berjalan.

Ahad, 22 Mei 2011
Udo Iwan

Embun Pagi

Senyap
dari serangga penghisap.
Terlelap.
Semalam suntuk begadang mengintip malam.

Hilang sesak embun pagi.
Kini, ia bisa melihat mentari.


Mengagetkan pejalan kaki.
Dan menari-nari di tangkai padi.

2 Mei 2011
Udo Iwan

Gema Hari Raya

Di sana,
takbir menggema disetiap sudut kota dan desa.
Terasa benar hari raya itu ada.
Di sini, semua serba hampa,
semua serba biasa,
tak ada yang istimema.
Dari zaman baheulak sampai kini tiba,


tak ada yg berubah,
hampa, hampa dan hampa.
Kapan aku bisa menikmati kembali gema kemenangan itu?
Ah, entahlah.
Smoga saja besok atau lusa,
semua menjelma nyata. Amiin!


Lebaran di Mesir
9 September 2011
Udo Iwan

freedom

Berat memang.
Tapi pion itu terus melaju.
Semangat yg mengalir dari kebobrokan negeri.
Ia bertekad menjadi sebuah ster
yang bisa melaju bebas di garis-garis tanpa batas.
Dan pada akhirnya,
ialah pendobrak yang akan bergerak.


Menghancurkan kerak-kerak yang berserak.
Lalu, "skak mat."

Freedom.
Merdeka kini.
kolonialisme.
Imperialisme. Musnah dilalap tanah.



Senin, 23 Mei 2011
Udo Iwan

Air Ilmu

Sekarang adalah saat menimba air ilmu
ke bak pikiran.
Dengan bekal muda,
akan banyak air terambil.
Dengan demikian,
bak ilmu akan cepat penuh.
Karena nanti,
adalah saatnya memberi
pada orang yang kekeringan. Air Ilmu

Dimana diusia tua nanti,
tenaga melemah,
tak dapat berbuat banyak.
Mumpung muda,
mari kita isi bak pikiran dengan air ilmu yang melimpah.

Tersadar

Kutersadar,
kau begitu tegar.
Dulu aku hanya melihat biasa,
ternyata betapa perkasa.
Mengendalikan setiap roda-roda yg menggelinding liar.
Ketika menjadi pemain,

semuanya terasa,
tak mudah ternyata!
Penonton penonton! Hanya bisa bersorak menghina.

6 september 2010
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTUK DAKWAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger