Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan

Ramadhan di Negeri Fir’aun

Written By rumah karya on Minggu, 07 Agustus 2011 | 21.58

Ramadhan selalunya memberikan warna yang berbeda pada setiap orang. Perbedaan itu terasa sesuai dengan kondisi dan situasi. Seorang pelajar misalnya, ia akan merasakan hal yang berbeda ketika bersama keluarga. Ada rasa bahagia tersendiri. Begitu juga halnya dengan seorang pelajar yang jauh dari keluarga. Tentunya ada sesuatu yang berbeda pula, mungkin sebuah kekurangan, karena tidak bersama keluarga.

Suasana juga terasa sangat berbeda dengan berbedaan ruang. Antara ruang Indonesia dan Mesir misalnya, memiliki perbedaan yang rada jauh. Ruang Mesir bagi sebagian penuntut ilmu yang jauh dari keluarga terasa sangat pengap. Hampa. Sirkulasi udara yang tidak berubah pada ruang tersebut terkadang membuat berkeringat. Bosan. Itu kalau ditilik dari segi perasaan. Sepi memang, tapi selalu ada pengisi disela kekurangan tersebut, ya, sahabat satu perjuangan.

Sedangkan dari sudut beramal dan perlombaan dalam kebaikan juga rada jauh. Sebut saja musa’adah (bantuan) yang diberikan orang Mesir, terutama pada wafidiin (pelajar asing). Pada bulan ramadhan ini para muhsiniin (pemberi bantuan) berlomba-lomba dalam bersedekah. Ada diantara mereka yang membantu berupa sembako. Ada juga berupa uang tunai. Biasanya untuk waktu sebulan atau dua bulan ke depan, kita cukup memanfaatkan bantuan-bantuan tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri. Mungkin ini diantara keberkahan ramadhan bagi pelajar asing di Mesir.

Hal lain yang bisa dilihat dari Mesir adalah semangat ibadah mereka. Sebagaimana kita ketahui bahwa diantara kekhasan ramadhan adalah qiyamullailnya, dalam hal ini shalat tarawih. Shalat tarawih di Mesir memberikan kesan tersendiri pada masing-masing jamaah (pelajar). Dari shalat yang membuat lutut goyang, sampai tarawih yang singkat bisa kita temukan. Keimanan biasanya menggiring ke masjid mana akan shalat. Ketika iman berada dipuncak, shalat satu juz merupakan pilihan. Sedangkan iman yang pas-pasan, masjid dengan bacaan ayat singkat jadi tujuan. Dan kesemuanya memiliki alasan tersendiri. Lama selesai, karena menikmati shalat tarawih. Cepat selesai, bisa mengerjakan kebaikan lain. Tilawah. Muraja’ah. Atau membaca. Yang jelas niat pengarah jalan. Lama tapi ikhlas, subhanallah. Singkat dan ikhlas, alhamdulillah. Yang jelas setiap kebaikan selalu ada ganjarannya.

Awal ramadhan biasanya biasa-biasa saja. Shaf shalat setengah pada awalnya. Memasuki paruh kedua, penuh. Memasuki sepuluh terakhir, membludak. Semakin hari semakin padat oleh jamaah. Terutama pada sepuluh terakhir. Karena para pecinta Allah biasanya mengintai malam lailatul qadr. Malam mulia dari seribu bulan.
Seterusnya adalah Maidaturrahman, sebuah tempat perbukaan yang disediakan orang Mesir. Perbukaan ini dibuka setiap hari. Dan siapapun bisa berbuka di sana. Walaupun ada sebagian yang mengkhususkan untuk orang tertentu, orang asing saja misalkan. Atau Mesir tok. Bagi para pelajar ini merupakan terget utama. Karena tidak perlu lagi bersusah payah. Cukup dengan mengayunkan langkah, perut kenyang. Tentunya dengan menu-menu yang nikmat. Ayam. Daging. Dan ikan. Semua tak beranjak dari situ.

Hal lain yang bisa kita catat adalah shalat satu juz. Sebagaimana diketahui, mesir adalah negeri seribu menara. Saking menjamurnya masjid, ia mendapat gelar demikian. Dimana-mana kita akan menemukan masjid, baik jami’ (masjid raya), atau masjid kecil yang menyatu dengan rumah. Dan kesemuanya ramai dikunjungi. Dari sekian banyak masjid, ada diantaranya shalat tarawih satu juz semalam. Jadi ketika selesai ramadhan, khatam tiga puluh juz. Dan di Mesir, ini mudah kita temukan. Dan hanya iman yang melambung saja yang mampu mengikuti sampai akhir ramadhan.

Diantara amalan yang dilakukan rasulullah Saw. hingga wafat beliau adalah i’tikaf sepuluh terakhir pada bulan ramadhan, sebuah amalan yang dikerjakan oleh rasulullah hingga akhir hayat beliau. Sebagaimana diriwayatkan oleh sayidah A’isyah, bahwasanya rasulullah I’tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan hingga akhir hayatnya. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Atau dalam lafaz lain, “bahwasanya rasulullah saw beri’tikaf setiap ramadhan.”

Di Mesir kita bisa menemukan sunah ini. Di mana kebanyakan masjid di Indonesia tidak tampak lagi menyemarakkannya, kecuali sebagian kecil saja. Di sini kita bisa melihat bagaimana masyarakat Mesir berlomba untuk beribadah kepada Allah, dan puncaknya adalah sepuluh hari terkhir ramadhan. Karena banyak keutamaan yang terdapat di dalamnya, yaitu pada malam ganjil khususnya. Masjid membludak, seolah tak kuat menahan desakan para pecinta Allah.

Kondisi berpuasa di Mesir juga memberikan perbedaan yang luar biasa. Ya, bulan ramadhan di Mesir bertepatan dengan musim panas. Sudah bisa diterka bagaimana letihnya berpuasa di tengah panas yang menyala. Dan perjuangan terasa lebih dibanding dengan negeri yang bercuaca biasa. Mungkin, di sanalah nilai plusnya. Setiap usaha keras, diimbali pula dengan balasan yang besar pula. Dan seperti itu pulalah dengan para pejuang islam yang berjihad di bawah panggang matahari. Dalam kondisi puasa, mereka pertaruhkan jiwa dan raga mereka untuk islam. Sudah barang tentu, balasannya berlipat ganda pula. Ya, berbagai peristiwa besar terjadi di bulan ini. Sebut saja perang Badar
yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 H di Badar. Menghadapi tentara musyrikin yang sangat jauh lebih besar jumlahnya, dua belas ribu. Pasukan yang hanya tiga ratus orang itu dengan pertolongan Allah mampu menghancurkan jumlah besar itu. Sekali lagi, ini terjadi pada bulan ramadhan.

Contoh lain adalah Pembebasan Spanyol yang dipimpin oleh panglima islam Thariq bin Ziyad pada bulan Ramadhan tahun 92 Hijriah. Pasukan yang berjumlah dua belas ribu itu berhadapan dengan tentara yang super besar, sembilan puluh ribu, di bawah koando raja Frederick. Sebagai langkah untuk menyalakan semangat pasukan, sang panglima membakar semua kapal mereka, “Sesungguhnya surga Allah terbentang luas dihadapan kita. Dan dibelakang terbentang laut. Kalian hanya ada dua piihan, mati tenggelam atau mati sebagai syuhada.” Dan ini terjadi di bulan ramadhan.

Atau sebuah peristiwa yang terjadi pada pertengahan bulan ramadhan tahun 584 Hijriyah, yaitu pembebasan Paletina dari tentara salib oleh Shalahuddin Al Ayyuby. Dimana sebelumnya tak ada satupun pemimpin islam yang berhasil membebaskan. Pada masa kepemimpinannyalah baru terbuka. Semenjak saat itu, para salibiyiin tak lagi ada yang berani berperang secara terbuka. Dan melakukan inovasi baru, yaitu berupa perang pemikiran. Mencetak misionari-misionaris dan menyuburkan orientalis. Dari sinilah mereka kini menyerang.

Peristiwa besar lain yang terjadi pada bulan ramadhan adalah perang ‘Ain Jalut di bawah titah Saifuddin Qutuz. Ini adalah sebuah peperangan yang terjadi antara umat islam dengan Tartar. Pasukan yang telah membunuh satu juta lebih kaum muslimin itu berhasil ditaklukkan.

Semua peristiwa besar itu terjadi di bulan ramadhan. Di tengah panas yang membakar dan dalam keadaan berpuasa. Dan balasan yang berlipat ganda tentunya bisa diteguk. Sesuai besar kecilnya usaha dan perjuangan.

“Tidaklah sama antara orang yang beriman yang duduk (tidak ikut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang yag berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya, serta ampunan dan rahmat. Allah maha pengampun maha penyayang.” (Q.S. An-Nisa’95-96).

Ber-ramadhan di negeri Fir’aun, banyak cerita yang bisa kita lihat, dengar dan rasakan. (Udo Iwan)

Kakek Muadzin

Written By rumah karya on Minggu, 10 Oktober 2010 | 09.57

Diantara ketakjuban-ku pada Mesir adalah masjid-nya yang tak pernah lengang shalat berjamaah, baik masjid kecil –meskipun kecil, di Mesir tetap namanya masjid- maupun besar. Maka, 'tak heran kalau Mesir dijuluki negeri seribu menara, karena memang masjid bertaburan di mana-mana. Bangunannya berbagai, ada masjid yang berdiri tegak sendiri, ada juga masjid yang menyatu dengan flat rumah, biasanya terletak di ardiyah (lantai dasar). Orang-orang Mesir yang baik hati, biasanya selalu menjadikan ardiyah rumahnya masjid, namun ada juga ditingkat dua atau tiga. Meskipun masjid bejibun, tetap ‘tak sepi, walau hanya dua atau tiga orang saja, suara imam tetap menggema.

Azan selalu berkumandang, bersahut-sahutan dari satu menara kemenara lain. Besar-kecil, tua-muda, berbondong-bondong menghadiri. Debu-debu, tipis, diinjak-injak jamaah yang ke luar masuk. Gemercik air kran yang dihidupkan setiap saat senantiasa terdengar. Aku berdecak kagum dengan pemandangan ini.!

Kemudian jika aku tilik kampung halamanku, ingat mushalla-mushalla dan masjidnya, aku sedih sekali, kosong, sunyi tak berpenghuni, kaecuali waktu-waktu tertentu. Masjid hanya sekali dalam seminggu dan mushallah 'tak menentu, padahal masjid dan mushalla ‘tak seberapa di sana. Namun tetap saja kesibukan mengalahkan semua. Harus aku akui memang, sumber daya manusia untuk mengajak, terbatas. Tak seperti di Mesir ini, yang berserakan ulama dan doktor-doktor. Di mana setiap tahunnya Mesir melahirkan doktor-doktor. Dan tercatat bahwa Mesir adalah Negara kedua terbanyak setelah Israel dalam melahirkan doktor-doktor setiap tahunnnya. Terlepas dari itu semua kesadaran yang tinggi juga lahir dari mereka, kesadaran untuk mengamalkan perintah Allah dan rasul-Nya, karena memang orang tua mereka mendidik untuk itu. Di kampungku orang yang mondorong untuk itu (berjamaah di masjid-red), masih sangat sedikit atau mungkin bisa dikatakan belum ada.

Dari sekian banyak jamaah, kesalutan itu kusematkan pada seorang kakek tua. Matanya telah kabur. Ia berjalan tertatih-tatih, terkadang membentur. Sebuah tongkat senantiasa menyangga ke mana-mana, itulah mata baginya kini. Pendengarannya ‘tak jelas lagi, ketika berbicara dengannya harus dengan suara yang tinggi, terkesan kurang sopan memang, tapi memang harus seperti itulah kalau menginginkan jawaban.
Setiap kali aku shalat di masjid itu, as Salam, ia selalu tampak di shaf awal, duduk berzikir, ‘tak pernah kulihat dia alpa, kecuali ketika malam jatuh, atau ketika kelam masih membayang, Maghrib, Isya dan Shubuh. Aku kagum padanya, keterbatasan langkah ‘tak menghalanginya berjamaah -di masjid-. Ia benar-benar mengamalkan apa yang rasulullah sabdakan, “Shalat berjamaah (di masjid) lebih baik daripada sahalat sendirian dengan pahala dua puluh lima derajat.” Atau dalam riwayat lain, “Dua puluh tujuh derajat.”

Setiap kali aku melihatnya di masjid, aku malu sendiri pada diri, tubuh masih sehat, mata dan pendengaran masih awas, ayunan kaki masih lincah, tapi terkadang enggan memenuhi panggilan Allah, “Ya Allah! Jadikanlah hamba orang yang pandai bersyukur terhadap segala nikmat-Mu.”

Di sini (Mesir) aku ingin mendidik diri, meniru semangatnya yang membakar. Selalu shalat lima waktu di masjid, duduk berdiri di shaf awal. Berharap ketika pulang nanti bisa mengajak masyarakatku mengamalkan perintah rasul ini. Untuk itu aku harus bisa mendidik diri karena kata imam al Juri dalam kitab adab an Nufus, “Orang yang tidak bisa mendidik dirinya, tidak akan bisa mendidik orang lain.” Ya, walaupun sebagai manusia, aku juga terkadang ada bolongnya..

Pelajaran selalu bercecer dimana kita berada, di angkot, jalanan, emperan, pasar, atau mungkin di hutan, namun sering kali kita ‘tak menyadarinya, kita terlalu angkuh, enggan untuk melihat, akibatnya kita sering silap. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagiku agar selalu rajin berjamaah di Masjid, dan bisa menghidupkan kembali masjid dan mushalla yang terpaku tak bergerak di kampungku. Amiin!


Catatan hari Ahad, 17 Mei 2009
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTUK DAKWAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger