Mustahil kau ‘kan mendapat, jikalau kau enggan berbuat. Mimpimu hanya sekedar obsesi yang melayang-layang di awang-awang. Ketika kau berani menyatakan mimpi, harusnya kau bertanggung jawab. Tak hanya sekedar berucap. Kau harus mampu mewujudkannya. Jangan kau berlepas tangan, enggan ‘tuk berjalan. Ingat! Harapanmu merupakan harapan mereka yang ada dibelakang juga, mereka yang berputih tulang pagi petang.
Bergeraklah! Ayunkan langkahmu. Panjat cita-cita yang menggelantung di langit. Jangan hanya menengadah, meminta, sedangkan kakimu terpaku bisu. Takkan ada gemercik air yang tersibak. Takkan ada denting pohon yang terinjak. Andai kau membatu. Sesekali kau takkan menghasilkan buah.
Teroponglah jauh kebelakang, bagaimana para ulama dahulu dalam berjuang meraup ilmu, mereka menjadi kaya lantaran gerak langkah, tak hanya bengong menerawang kosong. Kesungguhan dan kegigihan mereka itulah yang perlu kau tancapkan didinding dadamu. Imam asy-Syafi’i telah memberitahukan kunci dalam diwannya, “Wahai saudaraku, engkau tidak akan pernah memperoleh ilmu kecuali dengan enam hal, aku akan memberitahukan rinciannya kepadamu dengan jelas, kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal yang cukup, berteman dengan guru dan tempo yang panjang.
Kau telah memiliki kesempatan untuk belajar. Tinggal bagaimana memanfatatkan serta memunculkan semangat dan kesungguhan itu. Sebanyak apapun kunci yang diberikan, namun kau enggan memutar gagang, tetap kau takkan bisa masuk. Semua berpulang padamu.
Lihatlah bagaimana serangan-demi serangan yang dilancarkan kepada islam, siapa lagi kalau bukan kau yang akan membela. Apakah harus menunggu mereka berbuat? Tidak kawan! Kau sendirilah yang harus bergerak. Setiap kita memiliki tanggung jawab dan tugas yang berbeda. Dan kau hanya akan menadi buih, andai tak diisi dengan ilmu dan pengetahuan.
Baik-baiklah kau di rantau, kau telah keluar dari kampung, sebagaimana yang imam asy-Syafi’i sarankan, “Merantaulah dari kampungmu untuk mencari kemuliaan. Dan bepergianlah, karena dalam bepergian itu ada lima faedah, menghilangakan kesusahan, memperoleh penghidupan, mendapatkan ilmu, akhlak dan teman yang mulia.” Dan jangan pulang sebelum kau memilikinya.
Selamat berjuang, kawan!
Bergeraklah! Ayunkan langkahmu. Panjat cita-cita yang menggelantung di langit. Jangan hanya menengadah, meminta, sedangkan kakimu terpaku bisu. Takkan ada gemercik air yang tersibak. Takkan ada denting pohon yang terinjak. Andai kau membatu. Sesekali kau takkan menghasilkan buah.
Teroponglah jauh kebelakang, bagaimana para ulama dahulu dalam berjuang meraup ilmu, mereka menjadi kaya lantaran gerak langkah, tak hanya bengong menerawang kosong. Kesungguhan dan kegigihan mereka itulah yang perlu kau tancapkan didinding dadamu. Imam asy-Syafi’i telah memberitahukan kunci dalam diwannya, “Wahai saudaraku, engkau tidak akan pernah memperoleh ilmu kecuali dengan enam hal, aku akan memberitahukan rinciannya kepadamu dengan jelas, kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal yang cukup, berteman dengan guru dan tempo yang panjang.
Kau telah memiliki kesempatan untuk belajar. Tinggal bagaimana memanfatatkan serta memunculkan semangat dan kesungguhan itu. Sebanyak apapun kunci yang diberikan, namun kau enggan memutar gagang, tetap kau takkan bisa masuk. Semua berpulang padamu.
Lihatlah bagaimana serangan-demi serangan yang dilancarkan kepada islam, siapa lagi kalau bukan kau yang akan membela. Apakah harus menunggu mereka berbuat? Tidak kawan! Kau sendirilah yang harus bergerak. Setiap kita memiliki tanggung jawab dan tugas yang berbeda. Dan kau hanya akan menadi buih, andai tak diisi dengan ilmu dan pengetahuan.
Baik-baiklah kau di rantau, kau telah keluar dari kampung, sebagaimana yang imam asy-Syafi’i sarankan, “Merantaulah dari kampungmu untuk mencari kemuliaan. Dan bepergianlah, karena dalam bepergian itu ada lima faedah, menghilangakan kesusahan, memperoleh penghidupan, mendapatkan ilmu, akhlak dan teman yang mulia.” Dan jangan pulang sebelum kau memilikinya.
Selamat berjuang, kawan!
0 komentar:
Posting Komentar